Cerita tentang DANAU (RANU) KUMBOLO GUNUNG SEMERU








Marmoyo dan Sawitri adalah pasangan suami istri yang sangat miskin. Sawitri sedang hamil muda, ngidam ingin makan ikan. Karena tak punya uang untuk membeli ikan, Marmoyo pergi memancing di sungai dan mendapatkan seekor ikan mas yang cukup besar.

Ajaibnya, ikan itu bisa bicara dan sisiknya bisa berubah jadi kepingan emas. Ikan itu minta dirawat dengan baik, dan dirahasiakan soal sisiknya yang bisa berubah jadi emas, bahkan pada istrinya. Untuk sementara, ikan mas itu dirawatnya di dalam gentong air. Saat Marmoyo pergi untuk membeli ikan yang lain ke pasar, Sawitri yang sudah tak kuat menahan lapar ingin minum air di gentong. Tapi melihat ikan mas di gentong itu jadi tergiur karena memang ngidam makan ikan.

Dalam hatinya ia kesal, kenapa Marmoyo mau membeli ikan ke pasar, padahal ada ikan emas yang besar di dalam gentong. Dengan kesal, ikan mas itu segera digoreng dan dimakannya. Pulang dari belanja ikan, Marmoyo kaget melihat ikan mas sudah tinggal kepala dan tulangnya di atas meja. Marmoyo memarahi istrinya dan menceritakan hal yang sebenarnya, sehingga istrinya jadi menyesal. Malam harinya, Sawitri bermimpi bertemu ikan mas itu lagi. Dalam mimpinya itu, ikan mas bilang kalau bayi yang dikandung Sawitri, kelak akan lahir bersisik ikan.

Beberapa bulan kemudian, Sawitri melahirkan seorang bayi laki-laki yang membuat geger orang sekampung, karena bayinya itu berisisik seperti ikan. Marmoyo dan Sawitri sadar, kalau bayinya seperti itu akibat memakan ikan mas ajaib. Bayi itu kemudian diberi nama Kumbolo.

Sepuluh tahun kemudian, Kumbolo tumbuh menjadi anak yang aneh di antara teman-temannya. Karena keanehannya itu, ia jadi terasing karena selalu jadi bahan ejekan. Sehari-harinya, Kumbolo menghabiskan waktunya di sungai. Ia bisa berenang dan menyelam cukup lama dalam air seperti ikan.
 

Suatu hari, Kumbolo menolong Raja Lele yang sedang terjepit batu di dasar sungai. Sebagai rasa terima kasih, Raja Lele memberi hadiah kumisnya yang bisa berubah jadi tongkat dan cambuk sakti, juga bisa dijadikan ikat pinggang. Raja Lele juga memberi tahu rahasia sisik di tubuh Kumbolo. Raja Lele itu bilang, sisik di tubuh Kumbolo bisa hilang kalau Kumbolo bisa menemukan mutiara pelangi yang ada di puncak gunung Semeru.
 

Dengan restu ayah ibunya, Kumbolo pergi berpetualang untuk menemukan mutiara pelangi di Puncak Gunung Semeru. Dalam petualangannya, Kumbolo bertemu dengan 3 bocah nakal (Wiji, Gento dan Kunti). Kumbolo menyelamatkan mereka yang dikejar warga saat ketahuan mencuri. Untuk membalas budinya, mereka bersedia membantu Kumbolo mencari mutiara pelangi di puncak gunung Semeru. Padahal dalam hati mereka punya niat jahat, kalau Kumbolo berhasil menemukan mutiara pelangi akan dirampasnya.
 

Wiji yang suka mencopet dan mencuri, Gento yang suka berbohong dan menipu, serta Kunti yang suka jahil, selalu mendatangkan masalah dalam petualangan Kumbolo. Apa lagi sosok Kumbolo yang bersisik ikan membuat setiap orang yang melihatnya merasa aneh dan menaruh curiga. Karena ulah Gento yang menipu dan membohongi orang, mereka sempat ditangkap dan dikurung warga. Berkat kumis Raja Lele yang bisa dijadikan tongkat sakti, mereka berhasil lolos. Tapi sesampainya di hutan, Kunti yang suka jahil, malah bangunin macan tutul yang lagi tidur. Macan tutul itu ngamuk ngejar-ngejar mereka hingga kalang kabutan. Kunti nyaris saja diterkam harimau, untung Kumbolo pakai kumis Raja Lele yang bisa dijadikan cambuk, mengalahkan macan tutul itu.

Mereka kemudian bertemu dengan kera ekor panjang. Wiji malah mencuri pisang milik kera ekor panjang, sehingga dikejar-kejar. Kumbolo yang mau menolong malah terperosok jatuh ke jurang. Untungnya Kumbolo ditolong oleh burung belibis raksasa yang segera membawanya terbang ke puncak gunung Semeru yang terlihat pelangi. Sampai di puncak itu, Kumbolo melihat cahaya pelangi yang berkilauan. Tapi untuk bisa sampai ke tempat pelangi itu tidak mudah, karena harus melewati 3 pintu penjagaan.

Pintu pertama dijaga oleh kera ekor panjang. Kera ekor panjang yang mengenali Kumbolo marah dan menyerang. Dengan kumis Raja Lele yang bisa jadi cambuk, kera ekor panjang menyerah kalah. Di pintu ke 2, Kumbolo harus berhadapan dengan Luwak (sejenis musang) raksasa. Di pintu ke 3 Kumbo juga harus berhadapan dengan Ajag (sejenis anjing hutan). Akhirnya Kumbolo sampai pada pelangi dan melihat mutiara yang berkilauan. Untuk bisa mengambil mutiara pelangi itu, Kumbolo harus mengalahkan burung rangkong raksasa. 

Sementara itu, Marmoyo dan Sawitri yang khawatir dengan Kumbolo segera pergi menyusul. Tapi sampai di lereng Gunung Semeru, mereka malah dikerjain 3 bocah nakal. Perbekalan mereka dicuri dan disesatkan di dalam hutan.

Singkat cerita, Kumbolo berhasil mengambil mutiara pelangi dan meninggalkan puncak gunung Semeru. Tapi sampai di pertengahan lereng gunung, mereka dicegat oleh 3 bocah nakal yang ingin merampas mutiara pelangi. Tapi mutiara pelangi itu terjatuh ke tanah dan amblas. Ajaibnya, dari tanah itu langsung memuncratkan air bah yang dahsyat, dan dalam sekejab telah berubah jadi danau. 3 bocah nakal tewas tenggelam. Marmoyo dan Sawitri baru tiba, kaget melihat danau yang indah (Orang Jawa Timur menyebut danau dengan ranu) melihat Kumbolo menyembul dari danau dengan sisik ikan yang sudah hilang dari tubuhnya jadi kaget sekaligus girang. Mereka menyebut nama danau tersebut Ranu Kumbolo. diceritakan kembali oleh koeswanto
Category: 0 komentar

Asal usul sebutan Pasar Minggu

 

Asal usul sebutan Pasar Minggu


 Saya kalo mw beli buah seger ke Pasar Minggu pulang dari pasar minggu terus ke ragunan. Bagaimana sebenernya sebutan Pasar Minggu, coba anda simak penelusuran berikut ini.

Sejak dahulu hingga sekarang tempat itu merupakan pasar, yang juga terdapat terminal bus dalam kota. Sebelum tahun 1920, lokasi Pasar Minggu berada di Kampung Lio, pinggir Kali Ciliwung.

Zaenuddin HM, dalam bukunya “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe,” (377 halaman) diterbitkan Ufuk Press pada Oktober 2012, menjelaskan kawasan itu disebut Pasar Minggu karena kegiatan di pasar itu dahulu hanya pada hari Minggu.

Menurutnya, pada zaman itu bangunan pasarnya terbuat dari bambu beratapkan bahan atep, yakni terbuat dari daun kelapa atau dari bahan alang-alang.

Kegiatan di pasar tersebut meliputi perdagangan berbagai macam kebutuhan sehari-hari dan pakaian. Selain itu juga ada permainan judi seperti dadu koprok dan pangkalan ronggeng yang dikenal dengan sebutan Doger.

Lokasi Pasar Minggu pada 1920 dipindahkan ke dekat jalan, yaitu dekat rel kereta api, dan bersebarangan dengan terminal bus.

Meskipun kegiatannya hanya pada hari Minggun saja, dan lokasinya belum permanen, namun sudah mulai bermunculan pedagang China yang menjual beras setiap hari

Kemudian pada 1930, pemerintah Belanda membangun pasar dengan lantai ubin bertiang besi dan beratap seng. Lokasinya di terminal bus dan tempat PD Pasar Jaya.

Pasar tersebut menjual berbagai kebutuhan seharai-hari, pakaian dan juga buah-buahan. Kegiatannya pun tidak hanya berlangsung pada hari Minggu, namun paling ramai tetap saja pada hari Minggu.

Kemudian pada 1931 jalan yang menghubungkan Pasar Minggu dan Manggarai diperkeras dengan bebatuan, diaspal, sehingga pasar itu menjadi sangat ramai kendaraan.

 

Sejarah mencatat, pada 1960-an sampai 1980-an, kawasan Pasar Minggu merupakan sentra buah di Jakarta. Selain pusat perdagangan buah, kawasan ini dirimbuni berbagai jenis pohon buah. Tidak mengherankan bila Pasar Minggu penyuplai buah di Jakarta kala itu. Tidak hanya mengandalkan pasokan dari luar daerah.

Rokib, 50 tahun, warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menceritakan betapa buah begitu berlimpah di Pasar Minggu, ketika itu tahun 1970-an. “Dulu Duren Tiga, Buncit, Pejaten masih lebat dengan berbagai macam buah, tapi tiap lokasi selalu ada yang dominan,” kata Rokib

Untuk kawasan Pejaten hingga Ragunan didominasi buah rambutan. Pepaya dan jambu menguasai Pasar Minggu. Sedangkan Jati Padang, sangat kesohor dengan duren montong. Pohon-pohon duren di sana berukuran besar dengan diameter tiga lingkaran tangan orang dewasa.

Bila musim rambutan tiba, sepanjang jalan terlihat rambutan yang berbuah begitu lebat. Saking banyaknya, tidak perlu memanjat untuk memetik. Apalagi saat itu, Pasar Minggu masih banyak ditempati oleh orang Betawi. “Kadang tidak perlu izin untuk metik buah,” kata Rokib, Ketua Rukun Tetangga Pasar Minggu Lebak, RT 03 RW 08 Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu.

Ketika itu Pasar Minggu memiliki berbagai jenis buah dengan jumlah puluhan ribu pohon, mulai  dari pohon pepaya, nangka, duren, sawo, atau yang ada saat itu. Bisa dipastikan jumlah tiap satu jenis buah bisa mencapai empat puluh ribu pohon, bahkan bisa lebih. Alhasil, Pasar Minggu kebanjiran pasokan saat musim buah. Biasanya buah-buah itu disalurkan lagi ke pasar-pasar lain di seantero Jakarta.

Pasar Minggu kala itu identik dengan pasar buah-buahan. Perlahan-lahan limpahan buah itu mulai menyusut. Apalagi sejak pendatang dari luar mulai ramai datang ke Jakarta menjelang 1990-an. Lahan kebun digunakan warga untuk menanam buah mulai tergusur dijadikan permukiman dan jalan raya. Kondisi Pasar Minggu berubah, statusnya sebagai sentra buah tidak lagi seperti dulu. Meski saat ini masih ada buah-buahan, namun dipasok dari luar Jakarta.

 

 


Category: 0 komentar

JALAN PANTURA

 


Salah satu peninggalan penjajah Belanda yang masih bisa dirasakan hingga saat ini adalah Jalan Pantai Utara (Pantura). Jalan Pantura yang kini kita kenal sebagian besar merupakan peninggalan Belanda yang dikenal dengan sebutan De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan.

Jalan ini dibangun pada era Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Daendels memerintah antara tahun 1808-1811. Pada masa itu Belanda sedang dikuasai oleh Perancis. Sebagian dari jalan ini sekarang menjadi Jalur Pantura yang membentang sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Pembangunan jalan ini adalah proyek monumental Daendels, namun harus dibayar mahal dengan banyak pelanggaran hak-hak asasi manusia karena dikerjakan secara paksa tanpa imbalan atau kerja rodi. Ribuan penduduk Indonesia meninggal dalam kerja paksa ini. Jalan Raya Pos awalnya dibangun untuk pertahanan militer Belanda pada massa itu. Jalan Anyer-Panarukan ini juga digunakan Belanda untuk menunjang sistem tanam paksa (cultuur stelsel) yang saat itu sedang diterapkan kolonial Belanda. Dengan adanya jalan ini hasil bumi dari Priangan lebih mudah dikirim ke pelabuhan di Cirebon untuk selanjutnya dibawa ke negeri kincir angin. Jalan ini juga memperpendek waktu tempuh perjalanan darat dari Surabaya ke Batavia yang sebelumnya ditempuh 40 hari bisa dipersingkat menjadi tujuh hari. Sungguh sebuah prestasi luar biasa saat itu. Jalan ini juga sangat bermanfaat bagi pengiriman surat yang oleh Daendels kemudian dikelola dalam dinas pos. Pada awalnya, setiap 4,5 kilometer jalan ini didirikan pos penjagaan sebagai tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat-surat. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa. Karena itulah jalan ini pada awalnya disebut De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan. Untuk membangun proyek ini, Daendels mewajibkan setiap penguasa pribumi untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Sadisnya, priyayi atau penguasa pribumi yang gagal mengerjakan proyek tersebut, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Tak hanya itu, kepala mereka lalu digantung di pohon-pohon kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan, dia kejam, sadis dan tak kenal ampun. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur, menurut beberapa sejarahwan, korban meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meninggal tanpa dikuburkan secara layak. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat, dia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini. Jalan itu kini telah berusia lebih dari 200 tahun, meski demikian sebagian besar jalan Daendels masih bisa digunakan. Bahkan jalan ini menjadi akses darat satu-satunya untuk menuju Anyer. Sejarah pun mencatat betapa kelamnya sejarah jalan ini.
Category: 0 komentar

PITUTUR

 Seorang anak kehilangan sepatunya di laut, lalu dia menulis di pinggir pantai ...

LAUT INI MALING,
Tak lama datanglah nelayan yg membawa hasil tangkapan ikan begitu banyak, lalu dia menulis di pantai ...
LAUT INI BAIK HATI,
Seorang anak tenggelam di lautan lalu ibunya menulis di pantai ...
LAUT INI PEMBUNUH ..
Seorang diatas perahu dan di hantam badai, lalu menulis dipantai ...
LAUT INI PENUH MARABAHAYA
Tak lama datanglah Seorang lelaki yg menemukan sebongkah mutiara di dalam lautan, lalu dia menulis di pantai ...
LAUT INI PENUH BERKAH .
Sementara lautan dan seisi nya tak pernah mengeluh sedikitpun,
Kemudian datanglah ombak besar dan menghapus semua tulisan di pantai itu tanpa sisa.
MAKA..
JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN & PENGALAMAN YG BERBEDA.
Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yg baik.
Meski terkadang kebaikan tdk senantiasa di hargai.
Tak usah repot2 menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun,
Karena yg menyukaimu tidak butuh itu,
dan yang membencimu tidak percaya itu.
Hidup bukan tentang siapa yg terbaik, tapi Siapa yg mau berbuat baik.
Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan.
Namun Hapuslah ksalahan demi lanjutnya Persaudaraan.
Jika datang kepadamu gangguan.
Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yg lebih Perih,
tapi berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yg lebih Baik.
Kurangi mengeluh teruslah berdoa
Sibukkan diri dalam kebaikan.
Hingga keburukan lelah mengikuti kita.
Tugas kita adalah berbuat yg baik & benar, dan Bukan untuk menghakimi.
Memaafkan adalah memaafkan tanpa TAPI,
Menghargai adalah menghargai tanpa TAPI.
Jangan pakai hukum sebab akibat untuk membenarkan amarahmu,
Karena jika kau baik, amarah tak akan dibiarkan tumbuh subur d hatimu.
Category: 0 komentar

PITUTUR JAWA: No.01



Soal MENJALANI KEHIDUPAN .
Dari kitab kuno.
Di terjemahkan oleh: Wong Edan Bagu
Selain dari Ki Padmasusastra dalam Serat Madubasa nya dan Sri Sunan Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh nya. Saya juga menemukan butir-butir pitutur luhur jawa Dari beberapa Kitab Primbon Kuno. Yang Penulisnya saya sendiri tidak tau, siapa. Karena Sampul dan lembaran bukunya sudah Rusak termakan usia. Karena Rasanya pas untuk kita hayati guna menangkal perilaku manusia sesuai warning yang disampaikan oleh R Ng Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha dan Serat Sabdatama: Jaman Kalabendu. Kemudian saya Pilih yang masih nampak jelas Tulisannya dan saya Renungi, lalu saya Terjemahkan dalam bahasa Indonesia bebas/umum. Selamat membaca, semoga ada manfaat yang dapat dipetik.
1. MANUSIA DINILAI DARI PERBUATANNYA;
Ajining manungsa iku kapurba ing pakartine dhewe, ora kagawa saka keturunan, kepinteran lan kasugihane. Nanging gumantung saka enggone nanjakake kapinteran lan kasugihane, sarta matrapake wewatekane kanggo keperluan bebrayan. Kabeh mau yen mung katanjakake kanggo keperluwane dhewe, tanpa paedah.
TERJEMAHAN:
Nilai seorang manusia ditentukan oleh perbuatannya sendiri, tidak dibawa melalui keturunan, kepandaian dan kekayaannya. Tetapi bergantung bagaimana dia menerapkan kepandaian, kekayaan dan wataknya dalam bermasyarakat. Semua kalau diarahkan untuk kepentingan sendiri tidak akan bermanfaat.
2. ORANG MENARIK: BUKAN DARI PAKAIAN;
Reseping sarira ora marga saka pacakan kang edi-peni, nanging gumantung ing sandhang penganggo kang sarwa prasaja, trapsilaning solah bawa lan padhanging polatan.
TERJEMAHAN:
Seseorang menarik bukan karena pakaian yang indah melainkan terletak pada kesederhanannya, sopan santunnya dan cerahnya wajah.
3. DALAM MELANGKAH DAN BEKERJA: TELADANI AIR;
Saben tumindak sejangkah ngiloa marang kinclong-kinclonge banyu samudra sing suthik kanggonan sangkrah, jalaran sakehe uwuh mesti disingkirake minggir. Saben makarya sapecak, tuladhanen pakartine banyu tritisan, nadyan tumetes mbaka satetes, ditindakake kanti ajeg kaconggah mbolongake watu sing atose ngluwihi waja.
TERJEMAHAN:
Setiap berjalan satu langkah, bercerminlah pada gemerlapnya air samodera yang tidak mau ketempatan sampah, karena semua kotoran senantiasa disingkirkan kepinggir. Setiap langkah dalam pekerjaan, teladanilah perilaku air dari talang. Walaupun menetes satu tetes demi satu tetes mampu melobangi batu yang lebih keras dari baja.
4. MAU MENURUTI PERINTAH DAN NASIHAT;
Aboting abot iku ora kaya yen kudu nuruti prentah lan pitutur. Pahit lan ngrekasa dikaya ngapa prentah lan pitutur iku prayoga dilakoni. Kowe mesti bakal nemu barang legi sing ora klebu ing petunganmu, ing suwalike barang pahit mau, Pancen luwih prayoga pahite dhisik tinimbang legine. Awit bisane kowe ngrasakake legi iku rak marga kowe wis ngrasakake pahit. Bisa ngrasakake kabungahan marga kowe wis ngalami nandang kasusahan.
TERJEMAHAN:
Hal yang paling berat diantara yang berat adalah keharusan mengikuti perintah dan nasihat. Bagaimanapun pahit dan beratnya, sebaiknya perintah dan nasihat itu diikuti saja. Kamu pasti akan menemukan sesuatu yang manis di luar perhitunganmu dibalik barang yang pahit itu. Bukankah lebih baik merasakan pahit dahulu sebelum manisnya? Kamu bisa merasakan manis itu kan setelah tahu rasanya pahit. Demikian pula kamu bisa merasakan kesenangan karena kamu pernah mengalami kesusahan.
5. MAU MINTA PENDAPAT ORANG;
Wong pinter kang isih gelem njaluk rembuging liyan iku dianggep manungsa wutuh. Sapa sing rumangsa pinter banjur suthik njaluk rembuging liyan kuwi manungsa setengah wutuh. Lan sing sapa ora gelem njaluk rembuging liyan, iku bisa kinaran babar pisan durung manungsa.
TERJEMAHAN:
Orang pandai yang mau meminta pendapat orang lain bisa dikatakan manusia utuh. Yang merasa pandai kemudian enggan meminta pendapat orang lain adalah manusia setengah utuh. Kemudian siapapun yang tidak mau minta pendapat orang lain bisa dikatakan samasekali belum menjadi manusia.
6. JANGAN TERLALU MUDAH MOHON PETUNJUK;
Wong kang kerep dipituturi wong liya iku adate bisa dadi wong kang ngati-ati, nanging menawa kapengkok ing perlu sok ora bisa tumindak lan ngrampungi dhewe. Kepeksa isih kudu noleh marang wong liya sing diwawas bisa aweh pituduh. Mula kuwi prayoga ngawulaa marang ati lan kekuwatanmu dhewe, jalaran sejatine yen ana apa-apane, wong liya iku mung saderma nyawang, ora melu ngrasakake.
TERJEMAHAN:
Orang yang sering diberi nasihat oleh orang lain biasanya menjadi orang yang hati-hati, tetapi kalau dihadapkan pada sesuatu sering tidak bisa memutusi sendiri. Terpaksa masih harus berpaling kepada orang lain yang dipandang mampu memberi petunjuk. Oleh sebab itu, sebaiknya berpeganganlah pada hati dan kekuatanmu sendiri, karena sebenarnya kalau terjadi sesuatu maka orang lain hanya sekedar melihat tanpa ikut merasakan.
7. JANGAN GAMPANGAN DAN MENGANGGAP ENTENG APA SAJA;
Sapa kang nganggep apa bae gampang, mesti bakal nemu akeh rubeda. Sapa kang gampang janji ya dheweke kang arang netepi.
TERJEMAHAN:
Siapa yang menganggap apa saja mudah, pasti akan banyak menemukan masalah. Siapa yang gampang janji, dialah yang jarang menepati janji.
8. JANGAN MENUNDA PEKERJAAN;
Sarupane pakaryan kang wis kok yakini beciking asile tumuli enggal katindakna, aja ngenteni liya wektu. Jer kekencengan sarta kekarepan iku yen diendhe-endhe ora mundhak kuwate. Nanging malah mundhak ringkih lan bisa uga ilang dayane. Sipat seneng ngendhe-endhe iku mujudake dalan kang anjog marang watak ora antepan lan kesed, sungkan ing gawe sing tundhone dadi tanpa aji urip ing bebrayan.
TERJEMAHAN:
Semua pekerjaan yang sudah kau yakini manfaat dari hasilnya, hendaknya segera dilaksanakan, jangan ditunda. Niat dan tekad kalau ditunda-tunda tidak akan bertambah kuat. Justru menjadi semakin lemah bahkan hilang kekuatannya. Sifat suka menunda-nunda merupakan jalan menuju watak tidak tetap dan malas. Malas bekerja membuat kita tidak berharga dalam kehidupan bermasyarakat.
9. MAMPU MENYIMPAN RAHASIA DAN TIDAK INGIN TAHU RAHASIA ORANG LAIN;
Sarupaning wewadi sing ala lan becik yen isih mbok keket kanti remiting ati salawase tetep dadi batur. Nanging yen mbok ketokake sathithik bae bakal dadi bendaramu.Nyimpen wewadine dhewe bae abot, apa maneh yen nganti pinitaya nggegem wewadining liyan. Mula saka iku aja sok dhemen meruhi wewadining liyan. Mung bakal nambahi sanggan sing sejatine dudu wajibmu melu ngopeni.
TERJEMAHAN:
Semua rahasia yang baik maupun buruk kalau tetap kau simpan dalam hati selamanya akan tetap menjadi budakmu. Sebaliknya kalau kau buka sedikit saja maka akan menjadi tuanmu. Menyimpan rahasia pribadi saja berat apalagi kalau dipercaya menyimpan rahasia orang lain. Oleh sebab itu jangan suka mengetahui rahasia orang lain. Hanya akan menambah beban yang sebetulnya bukan kewajibanmu untuk memeliharanya.
10. SUKSES: JANGAN HILANG KEWASPADAAN;
Wong kang kinaran “sukses” yaiku: Wong kang wis ngetog kadibyane, ngudidaya nganti kecandhak gegayuhan lan idham-idhamane kang laras karo pepenginane. Tekane “sukses” durung ateges tamating crita, nanging malah kudu tansah luwih waspada, prayitna lan ngati-ati. Jalaran adhakane wong sing wis “sukses” banjur kurang kaprayitnane, sembrana lan gumampang ing sabarang tumindake, kang luput sembire bisa 
klenggak.Mula “sukses” iku anggepen kayadene sawijining pandadaran kanggo lestarining panggayuh becik.
TERJEMAHAN:
Orang sukses yaitu: Orang yang sudah mengeluarkan semua kemampuannya dan berupaya sampai tercapai harapan dan keinginannya sesuai yang dicita-citakan. Tercapainya sukses bukan berati akhir ceritera, justru harus lebih awas, waspada dan hati-hati. Mengingat sering kejadian setelah sukses orang menjadi kehilangan kewaspadaan, sembrono dan menganggap enteng segala sesuatunya sehingga berakibat fatal. Oleh sebab itu anggaplah sukses sebagai pelatihan demi kelestarian cita-cita yang baik.
11. WASPADA DENGAN IMING-IMING;
Wong kang ringkih iman lan batine bakal gampang dadi jujugane durjana apus-apus kang pating sliwer golek mangsan. Pirang-pirang wong kang kaselak percaya rembug pangiming-iming ora pinikir bakal kedadeyane ing tembe. Wusanane nandhang kapitunan lan kena ing apus. Mula ditansah waspada, aja lirwa ing kaprayitnan.
TERJEMAHAN:
Orang yang ringkih iman dan batinnya akan mudah jadi target penipu yang berkeliaran mencari mangsa. Banyak orang yang terlalu cepat percaya iming-iming tanpa dipikir apa yang akan terjadi di belakang hari. Akhirnya mengalami kerugian dan tertipu. Oleh sebab itu selalulah waspada. Jangan kehilangan kewaspadaan.
12. PUJIAN: TIDAK SEMUDAH ITU DIDAPAT;
Sapa wonge sing ora seneng yen entuk pangalembana. Nanging thukuling pangalembana iku ora gampang. Kudu disranani pakarti kang becik lan murakabi tumraping wong akeh. Yen mung disranani bandha, pangalembanane mung kandheg ing lambe bae, ora tumus ing ati. Dene yen disranani panggawe kang lelamisan, ing pamburine bakal kasingkang-singkang, disingkirake saka jagading pesrawungan.
TERJEMAHAN:
Siapa orang yang tidak senang menerima pujian. Tetapi untuk memperolehnya tidaklah mudah. Harus dibekali perilaku baik yang bermanfaat untuk orang banyak. Kalau hanya berbekal harta, pujian hanya berhenti di bibir, tidak sampai ke dalam hati. Demikian pula kalau bekalnya perilaku yang “lamis” di belakang hari akan dimaki-maki dan disingkirkan dari dunia pergaulan.
13. KEHORMATAN: AKAN DATANG SENDIRI, TAK USAH DIBURU;
Yen kepengin diajeni liyan, aja sok dhemen marta-martakake, apa maneh nganti mamerake kabisan lan kaluwihanmu. Pangaji-ajining liyan iku sejatine bakal teka dhewe, ora perlu mbok buru. Nuduhake kawasisan pancen kudu bisa milih papan lan empan. Mula kang prayoga kepara purihen aja kongsi wong liya bisa njajagi. Nanging mangsa kalane ngadhepi gawe-parigawe keconggah mrantasi.
TERJEMAHAN:
Bila ingin dihormati orang lain jangan suka memberitahukan kesana kemari apalagi kemampuan dan kelebihanmu. Penghormatan dari orang lain sebetulnya tidak perlu dikejar karena akan datang sendiri. Menunjukkan kelebihan harus empan papan, tahu kapan dan bagaimana caranya. Sebenarnya lebih baik jangan sampai orang bisa meraba kemampuanmu, tetapi kalau diperlukan kamu bisa mengatasi. (Bersambung Ke Bagian No. 02 – Soal KELUH KESAH, KERAGUAN DAN KESENGSARAAN)
KESIMPULANYA:
Tidak kita ingkari bahwa manusia hidup mencari kalau tidak mengejar “drajat, semat dan kramat”. Hanya perlu diingat bahwa manusia dinilai dari perbuatannya, bukan dari pakaian atau yang serba lahiriyah lainnya. Dalam bekerja manusia hendaknya meneladani ketekunan air yang pelan-pelan mampu melobangi batu. Harus mau mengikuti petunjuk dan perintah atasan, mau mendengar saran orang lain, tetapi tidak terlalu sering memohon petunjuk maupun menganggap enteng suatu masalah. Dengan demikian pekerjaan tidak akan sering tertunda atau terhambat.
Dalam melaksanakan tugas, kita harus mampu menyimpan rahasia termasuk tidak ingin tahu rahasia orang lain. Setelah sukses jangan kehilangan kewaspadaan. Hati-hati dengan iming-iming. Bekerjalah dengan baik karena pujian tidak segampang itu kita peroleh sehingga tidak perlu kita kejar. Kehormatan justru akan datang sendiri tanpa diburu.






Category: 0 komentar

Gajah Mada dan Kontroversi Dalang Pembunuhan Raja Majapahit

Gajah Mada dan Kontroversi Dalang Pembunuhan Raja Majapahit

Gajah Mada dan Kontroversi Dalang Pembunuhan Raja Majapahit

Satu hari di tahun 1328, seisi Istana Majapahit sontak geger. Raja Jayanegara tewas bersimbah darah di peraduannya. Penguasa Majapahit kedua ini mati di tangan tabibnya sendiri, Ra Tanca. Jayanegara, yang meminta Ra Tanca mengobati sakit bisulnya, ditikam dari belakang dan tewas seketika. Selain sebagai tabib istana, Ra Tanca juga seorang pengawal raja atau bhayangkara, sama seperti Gajah Mada.

Meskipun tudingan pelaku pembunuhan mengarah kepada Ra Tanca, tapi insiden berdarah ini belum terkuak sepenuhnya. Ada beberapa versi terkait siapa sebenarnya dalang yang menghendaki kematian Jayanegara. Selain Ra Tanca, Gajah Mada masuk dalam daftar tersangka.

Raja yang Tidak Disukai

Jayanegara naik takhta pada 1309. Ia adalah anak dari pendiri Majapahit, Raden Wijaya, dengan seorang putri Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera, Dara Petak atau Indreswari. Kitab Pararaton menyebut Jayanegara dengan nama Kalagemet yang ditafsirkan sebagai olok-olok karena nama tersebut memiliki arti “lemah” atau “jahat”.

Memang, banyak orang di Majapahit yang tidak senang dengan naiknya Jayanegara menjadi raja. Salah satu penyebabnya adalah karena Jayanegara berdarah campuran, Jawa dan Melayu, bukan turunan murni dari Kertanagara, raja terakhir Singhasari sebelum Majapahit berdiri.


Selain itu, Jayanegara juga bukan lahir dari permaisuri, melainkan dari istri selir. Padahal, sebelum menikahi Dara Petak, Raden Wijaya sudah punya empat istri yang semuanya adalah putri Kertanagara, seperti ditulis Pitono Hardjowardojo, dkk., Pararaton (1965:46). Namun, Dara Petak berhasil membujuk Raden Wijaya untuk menjadikan putranya, Jayanegara, sebagai putra mahkota.

Merujuk Nagarakertagama, Haris Daryono Ali Haji (2012:42) dalam buku Menggali Pemerintahan Negeri Doho menyebut, kebiasaan raja-raja di Jawa zaman dulu bahwa yang berhak menggantikan takhta kerajaan adalah anak yang lahir dari permaisuri, entah itu anak laki-laki maupun anak perempuan.

Setelah Jayanegara dinobatkan, banyak terjadi guncangan internal, termasuk timbulnya serangkaian pemberontakan. Para pemimpin pemberontakan ini justru orang-orang yang dulu sangat loyal terhadap Raden Wijaya. Setelah Raden Wijaya wafat, mereka menganggap takhta Majapahit jatuh di tangan orang yang salah.

Dari sekian banyak pemberontakan yang muncul pada era Jayanegara, ada beberapa yang paling membahayakan, antara lain pemberontakan yang dimotori oleh Ranggalawe pada 1309, Lembu Sora pada 1311, Nambi pada 1316, hingga Kuti pada 1319. 

Namun, Jayanegara selalu lolos dari maut dalam berbagai aksi pemberontakan itu. Nyawanya melayang justru ketika situasi kerajaan sudah agak tenang, di tangan orang dalam istana yang tidak lain adalah tabib sekaligus pengawal kepercayaannya sendiri, Ra Tanca.

Gajah Mada Sebagai Dalang?

Banyak referensi yang menyebut Gajah Mada punya andil dalam peristiwa matinya Jayanegara pada 1328, secara langsung atau tidak. Seorang peneliti sejarah asal Belanda, N.J. Krom, dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis, misalnya, meyakini bahwa Gajah Mada adalah otak pembunuhan itu.

Dikutip dari Parakitri Simbolon (2006) dalam Menjadi Indonesia, Krom meyakini bahwa Gajah Mada menyimpan dendam terhadap Jayanegara lantaran telah berbuat tidak senonoh terhadap istrinya. Gajah Mada memperalat Ra Tanca yang juga tabib istana untuk membunuh sang raja.

Buku Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya karya Slamet Muljana (1979) mendukung versi ini, meskipun Muljana juga memaparkan versi lainnya. Dituliskan, Gajah Mada pada hakikatnya tidak suka pada terhadap Jayanegara dan menggunakan Ra Tanca sebagai alat untuk mengakhiri nyawa raja yang bertabiat buruk itu.

Pararaton seperti dikutip Muljana juga mengungkapkan, Gajah Mada sudah bersiap di kamar raja tanpa diketahui Ra Tanca. Sesaat setelah Jayanegara ditikam, Gajah Mada mendadak muncul dan segera membunuh Ra Tanca. 
Meskipun ada di tempat kejadian perkara, nama Gajah Mada tetap bersih, bahkan ia disebut sebagai pahlawan. “Demikianlah rahasia itu tertutup. Orang ramai hanya tahu Gajah Mada membalaskan kematian sang prabu dan menusuk Tanca sampai mati,” tulis Muljana dalam bukunya.

Gajah Mada diduga memang tidak menyukai Jayanegara yang memiliki tabiat buruk dan kurang piawai dalam mengelola pemerintahan. Gajah Mada juga tidak terlalu cocok dengan Ra Tanca yang menjadi salah satu pesaing dalam kariernya  sesama pengawal raja.

Versi ini dilengkapi oleh Purwadi dalam Jejak Nasionalisme Gajah Mada (2004:84) yang menulis, setelah Jayanegara terbunuh, Gajah Mada segera menangkap Ra Tanca dan mengeksekusinya. Yang menjadi persoalan, eksekusi itu dilakukan tanpa melalui pengadilan terlebih dulu. Tindakan inilah yang lantas memunculkan asumsi bahwa Gajah Mada memang sengaja menggunakan Ra Tanca untuk menghabisi nyawa sang raja. 

Konspirasi Menghabisi Jayanegara

Dalam buku yang sama, Slamet Muljana juga mengungkap versi lain ihwal misteri matinya Jayanegara. Disebutkan bahwa pembunuhan itu memang murni dilakukan oleh Ra Tanca dan telah direncanakan sebelumnya.

Ra Tanca kesal terhadap Jayanegara setelah menerima laporan dari istrinya bahwa sang raja telah berbuat tidak sopan terhadap dua saudara tirinya yang juga putri Raden Wijaya, yakni Dyah Gitarja atau Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyat atau Sri Rajadewi.

Mengetahui hal ini, Ra Tanca lantas melapor kepada Gajah Mada, tapi sang patih tidak segera bertindak. Ra Tanca, yang merupakan abdi setia mendiang Raden Wijaya, lantas mengambil tindakan sendiri saat mendapatkan kesempatan mengobati Jayanegara.

Purwadi dalam Sejarah Raja-raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa(2007:97) menyebutkan bahwa Jayanegara memang tidak memperbolehkan dua adik perempuan tirinya itu menikah dan selalu menghalangi jika ada lelaki yang hendak meminang.

Setelah Jayanegara tewas, dua putri Majapahit itu akhirnya menikah. Tribhuwana disunting oleh Pangeran Cakradhara atau Kertawardhana, bangsawan muda keturunan Singhasari (Th. Pigeaud, Java in the 14th Century: A Study in Cultural History (2001: 540). Sedangkan Sri Rajadewi kawin dengan pangeran lainnya bernama Kudamerta.

Krom, seperti halnya Muljana, juga merilis versi lain ihwal pembunuhan Jayanegara. Menurut versi ini, Ra Tanca sudah berencana membunuh raja, bermula laporan istrinya yang mengaku telah dicabuli Jayanegara. Kebetulan, Ra Tanca mendapat kesempatan membalas ketika dipanggil Jayanegara yang memerlukan bantuannya.

Earl Drake dalam Gayatri Rajapatni: Perempuan Di Balik Kejayaan Majapahit (2012:96-97) punya kesimpulan yang lebih mengejutkan. Ia menyebut, pembunuhan Jayanegara merupakan konspirasi Gayatri bersama Gajah Mada. Gayatri adalah ibu Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Rajadewi atau salah satu istri Raden Wijaya sebelum menikahi Dara Petak, ibu Jayanegara.

Menurut Drake, Gayatri dan Gajah Mada ingin menghabisi nyawa Jayanegara karena kepemimpinan sang raja yang sewenang-wenang, serta niat Jayanegara yang ingin menikahi Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Rajadewi yang tidak lain saudari tirinya sendiri.

Terlepas dari semua versi itu, karier Gajah Mada memang kian mantap setelah Jayanegara tiada. Tribhuwana Tunggadewi yang naik takhta menggantikan kakak tirinya, mengangkat Gajah Mada sebagai mahapatih atau panglima tertinggi Majapahit pada 1334, jabatan yang belum tentu didapatnya jika Jayanegara atau Ra Tanca masih hidup
Category: 0 komentar

Sejarah Ondel Ondel

Ketika kita mendengar kata ondel-ondel, maka pikiran kita langsung tertuju pada masyarakat suku Betawi.
Ondel-ondel tingginya sekitar 2,5 meter dan dibuat dengan bahan dasar bambu. Bagian dalamnya dibuat semacam pagar atau kurungan ayam supaya mudah dipikul orang yang membawanya. Boneka ini digerakan oleh seseorang yang masuk ke dalam. Wajah ondel-ondel ini bisa dibilang “menyeramkan” karena matanya besar-bulat melotot dan kepalanya dilapisi ijuk atau kertas-kertas warna-warni, sebagai rambut. Jika “manggung” ondel-ondel selalu dibawa sepasang: lelaki-perempuan. Ondel-ondel lelaki dan perempuan juga ada ciri khasnya lho. Kalo yang lelaki wajahnya berwarna merah tua sedangkan yang perempuan biasanya berwarna putih. Entah ada atau tidak hubungannya antara pewarnaan ini dengan warna bendera kita: merah-putih.
Sejarah Ondel-ondel
Ondel-ondel konon telah ada sebelum Islam tersebar di Jawa. Dulu fungsinya sebagai penolak bala atau semacam azimat. Saat itu, ondel-ondel dijadikan personifikasi leluhur penjaga kampung. Tujuannya untuk mengusir roh-roh halus yang bergentayangan mengganggu manusia. Oleh karena itu tidak heran kalau wujud ondel-ondel dahulu, menyeramkan.
*Gambar Perbandingan Ondel-Ondel pada zaman dahulu Dengan Sekarang
Seiring perjalanan waktu, fungsinya bergeser. pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta (1966-1977), ondel-ondel menjelma menjadi seni pertunjukan rakyat yang menghibur. Biasanya disajikan dalam acara hajatan rakyat Betawi, penyambutan tamu kehormatan, dan penyemarak pesta rakyat. Di beberapa daerah di Nusantara, terdapat juga pertunjukan kesenian yang mirip ondel-ondel, seperti di Bali jenis kesenian yang mirip ondel-ondel ini disebut dengan barong landung dan di Jawa Tengah yang dikenal masyarakat sana dengan sebutan barongan buncis.
*Gambar Barong landung
Karena pada awalnya berfungsi sebagai personifikasi leluhur sebagai pelindung, maka bisa dikatakan bahwa ondel-ondel termasuk ke dalam salah satu bentuk teater tanpa tutur. ondel-ondel beraksi diiringi musik yang khas. Musik pengiringnya sendiri tidak tentu. Bergantung rombongan masing-masing. Ada yang menggunakan tanjidor, yaitu kesenian orkes khas Betawi. Ada yang diiringi dengan pencak Betawi. Dan ada juga yang menggunakan bende, ningnong, dan rebana ketimpring.
*Gambar Pemain Tanjidor
Kebudayaan Ondel-ondel sudah sangat identik dengan etnis Betawi. Mudah-mudahan ondel-ondel tetap lestari di tengah modernisasi kota megapolitan: Jakarta
Category: 0 komentar